Minggu, 15 November 2015

Kritik Deskriptif

1. Definisi

Kritik Deskriptif yaitu mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota dan lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami bangunna melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya agar tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete tetapi sekedar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

Source :  Ernasetyawijayanti

2. Metode

Beijing Capital International Airport
Lokasi, Chaoyang District, Beijing, China
Fungsi, Bandara Internasional
Penetapan, 2003
Mulai Pembangunan, 2004
Selesai Pembangunan, 2008
Luas, 1.300.000 m2
Klien, Beijing Capital International Airport Company Ltd.
Struktur Engineer, Aruo
Quantity Surveyor, Davis Langdon & Seah
M+E Engineer, Arup


Beijing Capital International Airport dirancang untuk membangkitkan semangat, menyambut Olimpiade Beijing dan juga merupakan simbol Cina. Bandara dengan atap aerodinamis dan bentuknya naga seperti merayakan sensasi dan puisi penerbangan dan membangkitkan warna tradisional dan simbol Cina. Teknik daylighting sebagai  konsep sains lingkungan dan sains bangunan menjadi ciri khas sang arsitek pada bangunan Beijing Capital International Airport 

[Foster N. 2013. Beijing Capital International Airport. http://www.fosterandpartners.com/projects/beijing-airport/. 2 juni 2013].

Prefabrikasi elemen struktur dan bangunan modular memberikan fleksibilitas untuk pertumbuhan dan operasi masa depan, serta meminimalkan polusi konstruksi di tempat. Desain pasif optimasi - Skylight di atap memberikan cahaya alami ke lantai atas, dan ini juga berorientasi untuk memaksimalkan keuntungan awal matahari pagi, menyediakan pemanas surya pasif untuk ruang. Kombinasi fitur lingkungan pasif dan aktif mengurangi biaya operasional bangunan. Penggunaan bahan yang tersedia secara lokal dan keterampilan lokal. Energi sistem lingkungan yang efisien. Sensor CO2 sesuai pasokan udara segar akurat ke tingkat hunian. VAV tanaman Penyejuk memungkinkan penggunaan pendingin bebas yang signifikan, serta meminimalkan fan energi. Sistem distribusi langsung dan terorganisir dengan baik membatasi pompa dan energi fan 

[Foster N. 2008. Hal. 1].  
Source : Subekti 


3. Teknik

  • Static Aspect (Secara Grafis)  
Depictive criticism dalam aspek static memfokuskan perhatian pada elemen-elemen bentuk (form), bahan (materials) dan permukaan (texture). Contoh cara menyusunannya yaitu dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : photografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata).  

  •  Dynamic Aspect (Secara Verbal) 

Tidak seperti aspek statis, aspek dinamis depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan di buat. Contoh cara menyusunannya yaitu :
  1. Bagaimana manusia bergerak melalui Ruang - ruang sebuah bangunan? ( bergerak melakukan aktifitas untuk mengamati diantara kantor dan ruang seminar serta ruang-ruang lainya 
  2. Apa yang terjadi disana? ( Mengamati tentang isi ruangan tersebut dengan cara  menggambar, mencatat dan merekam ) 
  3. Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik? ( bentuk ruang)
  4.  Bagaimana bangunan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya? ( karena adanya aktifitas dari orang – orang yang di dalamnya)  

  • Process (Secara Prosedural) 
Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimana sebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu.

3. Kelebihan dan Kekurangan

  • Kelebihan
Dengan kritik ini kita bisa mengetahui suatu karya sampai seluk beluknya. Metode dari deskripsi ini dapat di kritisi secara induktif, dari hal yang umum ke khusus ataupun deduktif dari hal yang khusus ke umum. Metode kritik ini tidak bertujuan untuk pengembangan karya selanjutnya seperti metode impresionis yang menggunakan hasil kritik untuk karya selanjutnya.

  • Kekurangan
  Hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.

Source : sandradesnia

Rabu, 22 April 2015

Penerapan Konsep 3R Pada Desain Interior Ruangan



Green Architecture, atau Arsitek Hijau bukanlah hal yang asing lagi bagi telinga kita, namun masih banyak yang belum menyadarinya bahwa bertapa pentingnya konsep ini. Arsitektur dituding sebagai pemakai energi dan penyumbang pemanasan global, mendengar hal tersebut seorang Arsitek setidaknya bisa menerapkan konsep Green Architecture pada rancangannya. Salah satu hal yang dapat membantu bagi Arsitek menjadi referensi dalam mendesain adalah dengan mengusung konsep 3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle. Sebagai calon Arsitek Muda (amien) penulis cukup tertarik dengan 3R ini untuk diterapkan dalam desain, baik itu desain untuk tugas kuliah maupun untuk lomba / sayembara. Namun, sebelum diterapkan maka harus mengerti dulu maksud dari 3R tersebut.

Penerapan 3R bisa dilakukan dari hal yang terkecil, misalnya dengan mengolah sampah menjadi kompos atau memanfaatkan sampah menjadi sumber listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) juga masuk dalam penerapan konsep 3R ini. Selain itu, setiap orang juga bisa dapat melakukannya setiap hari dalam setiap kegiatannya, seperti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya (Reuse), mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah (Reduce), dan mengolah sampah kembali (daur ulan / Recycle) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Maka dari itu, untuk menjalankan sebuah konsep yang besar harus dimulai dari yang terkecil, dengan dimulai dari kita J

Konsep 3R emang mudah difahami, namun masih sulit untuk diterapkan. Dan, dilihat dari kacamata Arsitek, Arsitektur dapat memiliki peran penting dalam mendesain konsep dengan menerapkan konsep 3R ini, contohnya Penerapan konsep 3R ( Reuse, Reduce, dan Recycle) pada Desain Interior Ruangan. 





Contoh diatas, merupakan salah satu contoh penerapa konsep 3R pada interior, dengan pemanfaatan tangga kayu bekas menjadi rak buku yang menempel di dinding, ini telah mencakup dari konsep 3R tersebut, menggunakan kembali tangga bekas (reuse), sehigga dapat mengurangi barang yang telah menjadi sampah (reduce), lalu menggunakan kembali menjadi sebuah rak buku (recycle) . Namun ada juga yang lagi nge-trend belakangan ini, yaitu penggunaan bahan kayu pallet menjadi pelengkap furniture interior yang dapat memberi kesan lebih vintage, modern,  dan retro.

Contoh diatas juga merupakan konsep dari 3R. Bagus ?, Toh dalam mendesain Interior Ruangan tidak harus dengan harga mahal, namun juga bisa menerapakan konsep 3R diatas dengan menggunakan bahan yang tidak terpakai lagi, sehingga dapat meminimalisirkan sampah, dan kamu bisa rcycle barang tidak terpaki menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.              


picture result : http://www.woohome.com thanks :)
by @rzkian_

 
 
Copyright © rizki kurniawan
Blogger Theme by BloggerThemes